KRITIKUS CHINA FOR MA YONG QIANG

Thursday 21 03:41:47 November 2017 | Admin
KRITIKUS CHINA FOR MA YONG QIANG

CAHAYA SENI RUPA DARI LAUTAN SELATAN
Kritik terhadap pameran tunggal Sidik W. Martowidjojo

Oleh:

Liu XiLin*

Musim semi 2006. Alam mekar kembali. Begitupun di dunia seni rupa Beijing. Warna-warni membara mulai membakar ruang pamer gedung The China Millennium Monument. Seorang pelukis Indonesia, Sidik W. Martowidjojo, sedang memamerkan karya-karya lukisnya yang mengejutkan dan menawan. Lama sudah China tak mendengar gema seni rupa Indonesia. Terakhir yang penulis ingat adalah enam jilid buku koleksi lukisan Presiden Republik Indonesia Soekarno, yang dua jilid diterbitkan oleh penerbit seni rupa China. Lewat buku itu, masyarakat seni rupa China mengenal seni lukis Indonesia, termasuk di antaranya karya-karya Lee Man Fong.

Setelah itu mereka hanya mengenal pelukis-pelukis Indonesia yang hijrah ke negeri RRT, seperti Ong Nai Djiang dan Djao Ta Li. Dan kita tahu setelah itu di Indonesia, kebudayaan China dibekukan selama hampir 30 tahun. Karena itu, pameran tunggal Sidik di Beijing kali ini ibarat perjumpaan kembali seorang teman lama yang telah begitu dirindukan. Apalagi pameran kali ini juga membawa kabar baru yang membahagiakan. Pada pembukaan pameran, Duta Besar Republik Indonesia untuk RRT, Sudrajat, menyebutkan bahwa pembukaan pameran itu, 13 April 2006, adalah ulang tahun ke-56 hubungan diplomatik RI – RRT.

Pameran tunggal Sidik kali ini bertajuk Pertapa Ber-pit Mabuk Berkelana ke Negeri China. Judul ini menggambarkan diri dan inti karyanya. Lukisan-lukisan Sidik merupakan pengembaraan tinta bak ke dunia warna. Karya-karyanya juga merupakan ekspresi gema suara hati seorang pertapa yang mengungkapkan rahasia alam yang dihayatinya. Mulai 1993 Sidik secara berkala melakukan perjalanan dari selatan ke utara, dari Fujian ke Tembok Besar; dari situ ia mengembara ke barat hingga Sezhuan. Sampai ia mabuk oleh kebesaran sungai, gunung gemunung, dan segenap kebudayaan Tiongkok. Lalu semua itu bagaikan gunung meletus ia tuangkan ke atas permukaan kertas shien tze dengan paduan gaya impresionisme, ekspresionisme, dan abstrak, yang menyatu dalam gaya pribadi yang khas Sidik.

Ketika berusia 9 tahun, Sidik bertemu dan berguru dengan ahli tenaga dalam bermarga Zhang. Dan pada umur 57 tahun Sidik berjumpa dengan seorang biksu sepuh di Chengdu, yang memberinya gelar “Tze Kuang” yang berarti “Cahaya Cendikia”. Kini Sidik menjuluki dirinya “Pertapa dengan Pit Mabuk”. Semua itu muncul dalam dirinya sebagai pelukis. Lewat pitnya Sidik menyalurkan baik tenaga dalamnya maupun renungan-renungan filosofisnya ke dalam lukisan-lukisannya.

Dalam kariernya sebagai pelukis, Sidik mempelajari Qi Bashi, mengagumi keberanian dan kreativitas menjelajahi hal-hal baru dari Lin Fengmian, mempraktekkan brush stroke dari Zhang Daqian dan Liu Haishu, dan dengan menggunakan kecendekiaan dan kebeningan sanubarinya ia menciptakan suatu penyampaian dan bentuk baru yang merupakan sebuah lompatan ke depan di dunia seni rupa.

Dari judul-judulnya, tampaknya Sidik mengambil sumber ilhamnya dari alam semesta. Tapi karya-karya seni lukisnya lebih menampilkan bentuk-bentuk abstrak. Sebab, alam semesta itu lebih dulu dihayatinya, baru kemudian dia ekspresikan ke dalam lukisan hitam putih dan berwarna, yang kedua-duanya mempunyai kelebihan masing-masing.

Berbeda dengan lukisan chinese painting selama ini, lukisan hitam putih Sidik menggunakan tinta bak dan warna putih. Misalnya pada lukisannya yang berjudul Dawat Hitam Mengguyur Tembok Besar, yang menampakkan kebaruan itu. Contoh yang lain adalah lukisannya yang bertajuk Panorama Negeri Utara Panjangnya Tembok Besar Meninggalkan Nama Ribuan Tahun dalam Keharuman. Meski hanya dalam hitam putih, lukisan itu bisa menunjukkan liukan tembok besar yang bagai naga raksasa menari-nari. Lukisan itu juga bisa menampakkan keagungan Tembok Besar.

Adapun yang mendekati abstrak, misalnya, adalah lukisan Kelincahan Pit Membawa Sukma Mengembara; Sebermula Tiada Aturan Tapi Hitam Putih Menghidupkan Puisi Alam; judul3; judul4. Bentuknya bagaikan gunung, bagaikan sungai, bagaikan awan, bagaikan air terjun, bagaikan lautan, tapi bukan gunung, bukan sungai, bukan awan, bukan air terjun dan bukan lautan. Tapi yang jelas, baik dari judul maupun dari lukisannya, kita bisa menyaksikan kebesaran alam semesta, segenap perubahannya, pergerakan yin dan yang-nya yang saling menghidupkan.

Ada juga lukisan yang berjudul lukisan5;6;7;8;9. Itu menunjukkan bahwa sang pelukis menguasai konsep-konsep lukisan chinese painting kuno dan mengembangkannya. Lukisan-lukisan itu juga menunjukkan sikapnya dalam menghadapi alam semesta. Dia sanggup menggambarkan gelora awan di langit Pegunungan Huang Shan dan sekaligus gelora ombak di Samudra Indonesia. Menatap karya-karyanya membuat saya teringat pada ucapan Lao Tze: “Tao menciptakan alam semesta ini bagaikan ada dan tiada. Dalam ada dan tiada seolah-olah muncul sebuah benda.” Juga, dalam kitab Paramitha ada disebutkan: “Di dalam kosong ada isi, di dalam isi adalah kosong. Di dalam ada adalah tiada, di dalam tiada adalah ada.”

Dalam sebuah kesempatan, Sidik bercerita kepada saya, ketika dia bertemu dengan biksu tua Cing Ting, sang biksu bertanya kepadanya: “Apa yang engkau inginkan maka engkau menemui saya?” Jawab Sidik: “Bukankah semua itu ada dan tiada. Karena itu, apa pula yang harus aku minta.” Karena itu dalam lukisan hitam putihnya, tiada kata yang bisa melukiskan kedalamannya. Tapi mereka yang melihat karyanya akan tergetar hatinya, dan lukisan itu bagaikan merasuk ke dalam sukmanya. Sebagaimana telah disebutkan oleh seorang filosof Tiongkok “menyatunya alam semesta dengan diri manusia”.

Pernah saya bertanya kepada sang pelukis: bagaimana proses dia melukis. Dan jawabnya, sering Sidik memandangi kertas kosong yang hendak dilukisnya sampai berhari-hari, bahkan kadang berminggu-minggu. Baru ketika “kesadaran”-nya muncul, langsung dia menyabet pit dan menggerakkannya seperti mabuk hingga lukisan itu jadi. Seolah-olah Sidik lupa akan dirinya dan pit itu bergerak sendiri. Seperti tak ada aturan tapi sebetulnya beraturan.

Karya hitam putih Sidik mempunyai keindahan dan kekhasan tersendiri. Tapi karya-karya berwarnanya tak kalah bandingnya. Dalam lukisan berwarnanya dia bisa menggunakan warna putih dan warna warni lainnya sedemikian rupa sehingga menampakkan kelebat-kelebat kenyataan tanpa membuat batas-batas yang nyata tapi di situ muncul lima unsur alam, lima warna dan dasar hitam dari chinese painting, juga bisa menonjolkan warna warni dari negaranya yang telah terpengaruh dari warna warni dari Eropa. Ini adalah pergabungan antara chinese painting dengan barat atau bisa juga chinese painting dengan indonesian painting. Karena itu di Indonesia sendiri oleh kritikus Eddy Soetriyono, Sidik disebut sebagai tonggak seni rupa moderen indonesia yang lain selain Lee Man Fong.

Biarpun penulis sendiri merasakan bahwa lukisan hitam putihnya lebih hebat dan lebih mempesona dari pada lukisan warnanya yang minimalis ( lukisan yang ada gunung dan bulan; dan lukisan bulan tertutup awan)

Ini bagaikan puisi yang sangat indah menunjukkan bulan yang dilukiskan dalam puisi Lee Tai Bo. Seperti borobudur dengan senja yang kuning keemasan dengan hitam kelam dari stupa-stupa Buddha. Terang kuning itu seolah2 bukan langit tetapi dari sanubari Sidik yang seperti pencerahan yang diajarkan Buddha.

Maka biarpun di dalam yang hitam putih ataupun yang berwarna adalah pergolakan hatinya yang sempurna sehingga ini yang saya sebut sebagai cahaya intelektual dari laut selatan. Meski Sidik di indonesia sudah sangat terkenal tetapi dia tetap rendah hati maka dia waktu bertemu denan saya dia masih minta dengan saya memberi petunjuk tidak seperti sebagian pelukis ternama dari China yang sangat angkuh, maka saya juga memberanikan diri untuk bertukar pikiran dan memberi kritik. Petunjuknya: Kaligrafi harus terus dilatih dan karena itu adalah dasar dari seni lukis china. Kedua soal kosong dan isi, ketiga harus mendiskusikan bagaimana mencari titik pertemuan dan menggunakan bahan inspirasi dari daerah sendiri dan mengenai perbedaan pasar lukisan dan seni. Jadi ini semua sedang dipikirkan bersama.

Meski sudah tua sidik memiliki badan yang keras dan kuat dan masih tampak sehat, dia berkeinginan kuat untuk lebih mencari kesempurnaan dalam seni lukisnya. Saya percaya orang yang memiliki hati tekun dan sungguh-sungguh ini pasti bisa seperti zang ta djien,zao u ci, Cu tek cun, terkenal di dunia seni rupa dan bisa mencemerlangkan dan memberikan pembaharuan2 dalam chinese painting.

Share it