About Sidik Martowidjojo

            Sidik W Martowidjojo was born in malang, Java, Indonesia, in 1937. A renowned Indonesia painter, he serves as president on the Indonesian culture associatiaon and work with the Chines National Academy of Arts as a Contract Research Fellow.

                       Martowidjojo become passionate about painting as a child. He is interested in a wide range of subjects across eastern and western cultures, including calligraphy, literature, history, and philosophy. While absorbing the essences of their respective a achievements, he has blassed new trials in artistic creation both theoretically and practically.

Over the last few years, his painting have been displayed in many institutions around the world including the Indonesian national museum, Indonesia National Gallery, Indonesian National Archives, National Art Museum of China, China Millenium Monument, Christie’s in Hong Kong, and the Louvre in France.

            Many of his work have been acquird by the Indonesian Natinal Gallery and Singapore National Gallery as well as private collectors around the world.

            His master works can be found in selected work by Sidik W Martowidjojo, including his painting displayed at The China Millenium Monument in 2006 and his exhibits at National Art Museum of China in 2007 as well as those in the golden bridge between Indonesian and china and Ex Oriente Lux: Salon 2014 de la SNBA au Carrousel du Louvre.

 



 

Lahir di Malang, Jawa timur, Indonesia, 24 September 1937, Sidik W Martowidjojo (Ma Young Qiang) menekuni dunia seni lukis, Kaligrafi, sejarah, sastra, dan filsafat sejak belia baik timur ataupun barat, terutama Indonesia dan Tiongkok. Dalam dunia seni lukis, Sidik belajar baik secara “langsung” maupun tidak langsung dari tokoh seni rupa.

Latar belakang inilah yang membayangi langkah sang seniman ketika dia memutuskan untuk berkarirmenjadi seorang pelukis. Tapi, latar belakang ini pula yang membuat Sidik W Martowidjojo baru bisa berpameran secara “formal” di negerinya pada ahkir 1990-an. Sebab sebelumnya, yakni sejak tahun 1967, segala hal yang berhubungan dengan ekspresi kebudayaan berwarna Tionghoa dilarang tampil..

Kendati begitu sejak peraturan ini dicabut secara resmi di tahun 2000, pameran tunggal Sidik W Martowidjojo terus mengalir, dan membuat namanya kian dikenal. Setelah menggelar lebih dari 20 pameran tunggal di Indonesia antara lain di Galeri Nasional, Sidik juga berpameran di berbagai kota besar di Tiongkok.

Pada tahun 2006, Sidik W Martowidjojo berpameran tunggal di galeri besar di Beijing, The China Millenium Monument. Mengundang takjub para kritikus terkemuka dan guru besar perguruan tinggi seni rupa di China, Ma Young Qiang pada tahun 2007 diundang untuk bersolo exhibition di galeri paling bergengsi di RRT tempat para maestro dunia mengelar karyanya : yakni di NAMoC (National Art Museum of China) atau Zhong Guo Meishuguan, Beijing. Selanjutnya galeri-galeri terkemuka di Shanghai, Fuzhou, Mongolia Dalam, dan kota-kota penting lainya pun mengundangnya untuk berpameran tunggal. Di Shanghai, Sidik W Martowidjojo berpameran tunggal di Liu Haisu Art Museum.

Atas gaya melukisnya yang khas, para kritikus terkemuka di Tiongkok menjulukinya sebagai “Dewa Pit Mabuk”. Sementara itu, oleh dunia perguruan tinggi seni rupa China, Sidik dianggap memberi sumbangan penting terhadap perkembangan “Chinese Painting”, sehingga dia sering diundang sebagai Guest Professor di beberapa perguruan tinggi seni di Tiongkok. Untuk itu, pemerintah cina mengangkatnya sebagai “Research Fellow” di Chinese Academy of Arts, Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Atas kapasitasnya itu pula,maka pada 2010, Sidik W Martowidjojo diundang untuk menghadiri “The First-High Level Academic Forum for Asian Culture and Art Circle 2010 di Chengdu”, bersama antara lain nobel prize in litelature tahun 2012: Mo Yan. Adapun di Indonesia, Sidik W Martowidjojo adalah ketua Perhimpunan Budaya Indonesia, yang aktif dalam kegiatan pertukaran budaya, antara lain antara Indonesia dengan  Republik Rakyat Tiongkok.

Setelah mantap menancapkan prestasi di China Sidik W Martowidjojo melebarkan saya ke Eropa. Di pusat seni rupa barat, Paris, Sidik mulai memamerkan karya-karyanya. Kali ini adalah pamerannya yang kedua di Salon de la Societe Nationale des Beaux-Arts Carrousel du Louvre, Paris, Perancis. Dalam pamerannya yang kedua ditempat yang sama ini, Sidik W Martowidjojo menggelar lebih dari 20 karyanya dan mendapatkan penghargaan 2 medali Emas : yaitu Médaille d’Or Peinture dan Médaille d’Or. Sidik W Martowidjojo menjadi seniman pertama di Indonesia yang mendapatkan penghargaan ini.